Selasa, 03 Februari 2015

Cara Pembuatan Modul Pembelajaran

Tulisan ini bertujuan untuk sebagai panduan dalam membuat modul pembelajaran. Apalagi sekarang dengan sistem kenaikan pangkat yang mengharuskan guru untuk membuat karya tulis untuk dinilai sebagai angka kredit. Maka pembuatan modul dapat sebagai salah solusi disamping juga merupakan bahan ajar yang bermanfaat bagi siswa. Pada tulisan ini juga dilengkapi contoh modul yang dapat Anda download. Semoga tulisan ini bermanfaat.

A.       Pengertian Modul
Materi pembelajaran pada suatu modul, disusun den disajikan sedemikian rupa agar siswa secara mandiri dapat memahami materi yang disajikan. Modul umumnya terdiri dari:
1.    Petunjuk siswa
2.    Isi materi bahasan (uraian dan contoh)
3.    Evaluasi
4.    Kunci jawaban evaluasi
5.    Pegangan guru (bila ada)
Ciri lain dari modul adalah dalam satu modul terdapat beberapa kegiatan belajar yang harus diselesaikan dalam kurun waktu tertentu dan di setiap akhir pembelajaran terdapat umpan balik dan tindak lanjut.
Umumnya satu modul menyajikan satu topik materi bahasan yang merupakan satu unit program pembelajaran tertentu.

Kamis, 06 Juni 2013

KURIKULUM 2013

Oleh
Adi Saputra, M.Pd

Saat ini Kementerian Pendidikan Nasional sedang mengevaluasi kurikulum yang berlaku sekarang ini untuk dilakukan perubahan atau perbaikan. Perubahan-perubahan itu antara lain pengurangan jumlah mata pelajaran mulai dari tingkat sekolah dasar sampai dengan sekolah menengah tingkat atas, pemetaan standar kompetensi lulusan untuk menghindari overlapping materi, masalah mata pelajaran dan penjurusan di SMA, pembagian tanggungjawab terhadap mata pelajaran dalam KTSP, dan permasalahan hubungan SMA-SMK.
            Mata pelajaran pada sekolah dasar direncanakan sekitar lima mata pelajaran, yaitu pendidikan agama, pendidikan kewarganegaraan, bahasa Indonesia, olah raga, dan kesenian. Sedangkan IPA dan IPS merupakan materi yang diintegrasikan ke dalam lima pelajaran tadi. Misalnya tema wacana dari bahasa Indonesia diambil dari materi IPA atau IPS. Untuk tingkat SLTP direncanakan IPA atau IPS digabung menjadi ilmu pengetahuan umum. Selanjutnya untuk tingkat SLTA, terdiri dari enam pelajaran yang merupakan tanggungjawab pusat untuk membuat silabus dan bahan ajarnya yang disebut dengan mata pelajaran wajib kelompok A. Lima pelajaran tersebut adalah pendidikan agama dan budi pekerti, pendidikan pancasila dan kewarganegaraan, bahasa Indonesia, bahasa inggris, matematika dan sejarah Indonesia. Sedangkan mata pelajaran wajib kelompok B adalah seni budaya, prakarya dan kewirausahaan, dan penjasorkes. Mata pelajaran lain ada yang  merupakan tanggungjawab daerah yang dihubungkan dengan muatan lokal serta ada mata pelajaran yang merupakan tanggungjawab satuan pendidikan.
            Standar Kompetensi Lulusan dipetakan untuk menghindari tumpang tindih antara satu mata pelajaran dengan mata pelajaran lainnya. SKL tersebut dijabarkan menjadi mata pelajaran-mata pelajaran. Sehingga nantinya mata pelajaran TIK kemungkinan tidak diajarkan lagi, namun menjadi budaya siswa dari tingkat SD sampai SLTA. Sedangkan penjurusan atau istilah sekarang peminatan di SMA akan diarahkan siswa untuk mengambil mata pelajaran yang menjadi minatnya untuk di perguruan tinggi nantinya yang dimulai dari kelas X. Disamping mata pelajaran yang disebutkan tadi akan ada lagi mata pelajaran lintas minat dan pendalaman sebanyak 6 JP untuk kelas X dan 4 JP untuk kelas XI dan XII.
             Di samping itu juga ada istilah kompetensi inti yang terdiri dari 4 kompetensi untuk setiap KD-nya. Kompetensi inti 1 merupakan kompetensi keagamaan, kompetensi 2 adalah kompetensi sosial, kompetensi 3 adalah kompetensi pengetahuan, dan kompetensi 4 adalah kompetensi penerapan pengetahuan. Sejatinya kompetensi 1, 2, dan 4 harus menyukseskan kompetensi 3. Sehingga nantinya di dalam RPP akan ada indikator untuk setiap kompetensi.
            Selain hal-hal di atas, masalah SKS diarahkan untuk tetap akan dilaksanakan dengan cara menarik mata kuliah untuk di ajarkan di SMA bila siswa yang cerdas. Sedangkan hubungan SMA dan SMK akan dievaluasi dengan kemungkinan aka nada mata pelajaran di SMK akan dipelajari oleh siswa SMA yang tidak akan melanjutkan ke PT atau sebaliknya siswa SMK akan belajar ke SMA bila ingin melanjutkan ke PT. Di samping itu juga ada wacana untuk mengurangi jam wajib guru dari 24 jam pelajaran per minggu menjadi 16-18 jam pelajaran per minggu.
            
Download:
1. Bahan Presentasi (PPT) 
2. Pedoman Implementasi
3. Kompetensi Dasar SMA

Selasa, 02 Oktober 2012

212 WEBSITE UNTUK PEMBELAJARAN

Oleh:
Adi Saputra, M.Pd
 Internet pada saat ini sudah merupakan suatu keharusan untuk dapat digunakan di dalam dunia pendidikan. Guru juga diharapkan untuk dapat selalu mengakses internet ini agar dapat digunakan di dalam proses pembelajaran. Internet bermanfaat bagi guru mulai dari mengambil bahan ajar, silabus atau RPP, modul, buku, software, email, dan bahan lain yang dapat digunakan di dalam kelas. Sehingga nantinya guru tidak ketinggalan dari siswa yang kadang-kadang lebih pintar dari guru di dalam mengakses dunia maya ini. Di bawah ini ada 212 alamat website yang bisa digunakan para guru untuk mendapatkan berbagai informasi dan dibagi dua kelompok, yaitu website umum dan website mata pelajaran. Anda tinggal meng-copy paste alamatnya ke address komputer Anda atau langsung meng-klik alamatnya..
A.        Website Umum
1.            http://www.psb-psma.org/
Pusat Sumber Belajar merupakan website yang dikembangkan oleh Direktorat Pembinaan SMA yang berisi bahan ajar tutorial dan bahan ajar mandiri. Bahan ajar tutorial diperuntukkan untuk guru yang dapat digunakan di dalam pembelajaran di kelas. Sedangkan bahan ajar mandiri untuk siswa sebagai bahan belajar mandiri yang tanpa memerlukan guru. Untuk dapat men-download bahan ajar pada website ini, maka anda diharuskan dulu untuk mendaftar.

2.            http://belajar.kemdiknas.go.id/
Rumah Belajar merupakan portal bahan belajar dan jaringan komunitas sekolah yang dibina dan dikembangkan oleh Pusat Teknologi Komunikasi dan Informasi (Pustekkom) Depdiknas. Situs ini berisi bahan belajar online untuk siswa yang juga dapat dimanfaatkan guru untuk meningkatkan pemahaman mereka akan bahan ajar.

3.             http://blogguru.net/
Blogguru diperuntukkan bagi tenaga pengajar untuk memikirkan, menuliskan, dan bertukar informasi atau pengetahuan untuk mendukung gerakan guru menulis melalui blog. Web ini memang sebagai tempat untuk membuat blog dengan menggunakan engine wordpress. Untuk mempermudah, Blogguru memberikan panduan begaimana menggunakan Blogguru.

4.             http://beritapendidikan.com/
Tujuan utama website BeritaPendidikan.com adalah membantu pelajar dan guru di Indonesia untuk mencari informasi mengenai perkembangan pendidikan.

5.             http://www.berani.co.id/
Website koran anak Indonesia, Berani. Website ini merupakan versi online dari koran anak Berani yang terbit setiap hari.

6.             http://www.bestfreewaredownload.com/
Website yang berisi software gratis untuk berbegai bidang termasuk untuk pendidikan.

7.             http://bse.depdiknas.go.id/
Merupakan situs Depdiknas yang menyediakan buku sekolah elektronik. Buku-buku teks pelajaran ini telah dinilai kelayakannya oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP).

8.             http://bsnp-indonesia.org/id/
Website ini merupakan website Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP).

9.             http://www.chem-is-try.org/
Website ini merupakan situs komunitas kimia Indonesia, berisi berbagai macam artikel, bahan ajar tentang kimia.

CeritaRakyatNusantara.com adalah portal (pangkalan data) berisi cerita-cerita rakyat nusantara yang mengandung nilai etika, moral, spiritual, dan kearifan lokal sesuai dengan kultur yang hidup di tempat cerita rakyat tersebut berasal.

Rabu, 23 Mei 2012

PENDEKATAN ICARE


Dalam penyusunan perangkat pembelajaran tiap pelajaran untuk belajar aktif, digunakan satu kerangka yang sangat sederhana, yaitu disebut ICARE. Sistem ICARE mancakup lima elemen kunci suatu pengalaman belajar yang baik, yang dapat diterapkan terhadap peserta didik. Oleh karena itu, sistem ICARE sangat baik untuk diterapkan dalam proses belajar di sekolah. ICARE adalah singkatan dari: Introduction, Connection, Application, Reflection, dan Extension.Penggunaan sistem ICARE sangat memberi peluang kepada peserta didik untuk memiliki kesempatan mengaplikasikan apa yang telah mereka pelajari dalam pelatihan. Namun juga harus diingat bahwasanya perangkat tersebut harus memenuhi aturan sesuai dengan standar proses yang terdapat dalam Permendiknas no 41 tahun 2007. Dalam Permendiknas tersebut terdapat eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi. Di samping itu juga memasukkan pendidikan budaya karakter bangsa dan kewirausahaan. Berikut ini dijelaskan secara rinci kerangka ICARE.

1.      I = Introduction (Pendahuluan)
Pada tahap pengalaman belajar ini guru atau fasilitator menetapkan materi pelajaran kepada peserta didik. Ini harus mencakup menyiapkan peserta didik secara psikis dan fisik untuk mengikuti proses pembelajaran, penjelasan tujuan pembelajaran, dan menyampaikan cakupan materi serta penjelasan uraian kegiatan sesuai silabus.

2.      C = Connection (Koneksi)
Koneksi merupakan tahap pengkaitan antara pengetahuan yang dimiliki peserta didik sebelumnya. Dalam banyak hal, proses belajar itu berurutan (sequential) dengan membangun suatu kompetensi di atas suatu kompetensi sebelumnya. Karena itu, semua pengalaman belajar yang baik harus dimulai dari apa yang peserta didik telah tahu dan dapat dilakukan serta dapat dibangun di atasnya. Pada tahap connection pembelajaran guru mencoba mengaitkan materi pembelajaran yang baru dengan pengalaman belajar sebelumnya. Guru dapat mencapainya dengan melakukan latihan brainstorming sederhana untuk mengenali apa yang telah diketahui peserta didik, dengan meminta peserta didik mengatakan kepada guru apa yang mereka ingat dari pembelajaran sebelumnya atau dengan mengembangkan suatu kegiatan yang dapat dilakukan peserta didik secara mandiri. Dengan mengikuti hal ini guru menghubungkan peserta didik dengan materi yang baru. Namun, yang perlu diperhatikan adalah bahwa tahap ini dilakukan tidak terlalu lama menghabiskan waktu. Paling lama waktu dugunakan sekitar sepuluh menit.

Selasa, 22 Mei 2012

PERKEMBANGAN PSIKOLOGI ANAK UNTUK GURU DAN ORANG TUA

Oleh:
Adi Saputra

            Sejak abad ke-20 mulai terjadi perubahan besar mengenai konsepsi pendidikan dan pengajaran. Perubahan tersebut membawa perubahan pula dalam cara-cara pembelajaran di sekolah. Dari cara pengajaran lama dimana siswa-siswa harus diajar dengan diberi pengetahuan sebanyak mungkin dalam berbagai mata pelajaran, berangsur-angsur beralih menuju ke arah penyelenggaraan sekolah progresif, sekolah kerja, sekolah pembangunan, dan sekolah yang menekankan pada keaktifan siswa di dalam pembalajaran. Mula-mula situasi pembelajaran di sekolah lebih menonjolkan peranan guru dengan tujuan untuk penguasaan materi pelajaran yang direncanakan oleh guru (teacher centre). Siswa lebih bersifat pasif dan hanya tinggal menerima apa yang disuguhkan oleh guru. Kurikulum sepenuhnya direncanakan dan disusun oleh guru atau sekolah tanpa mengikutsertakan siswa.
            Berdasarkan studi psikologi belajar yang baru serta sosiologi pendidikan, maka masyarakat pendidikan menghendaki agar pengajaran memperhatikan minat, kebutuhan, dan kesiapan siswa untuk belajar, serta dimaksudkan untuk mencapai tujuan-tujuan sosial sekolah. Gagasan ini awalnya dikemukakan oleh John Dewey dengan “pendidikan progresif”, yang menggambarkan adanya situasi kebalikan dari kenyataan mula di mana guru sebagai penguasa dan sekarang siswa memegang tampuk kepemimpinan. Dengan perkataan lain jika dulu guru memegang otoritas, sekarang guru menjadi “pelayan” dari siswanya (student centre).
            Berdasarkan penjelasan di atas maka seharusnya guru atau orang tua untuk dapat memahami siswa atau anaknya. Proses memahami ini bertujuan agar guru atau orang tua bisa mengarahkan siswa atau anak untuk mencapai tujuan pembelajaran atau tujuan hidup yang sesuai dengan harapan yang dicita-citakan bersama. Sehingga pada akhirnya tidak terjadi rasa frustasi dari guru atau orang tua karena tidak dapat memahami siswa atau anaknya. Di samping itu juga untuk menghindari kasus “salah asuhan” terhadap anak. 

Senin, 07 Mei 2012