Sabtu, 03 September 2016

Free Download Modul Guru Pembelajaran untuk SMP dan SMA/SMK



Pembelajaran dalam moda tatap muka dan moda daring dapat dilakukan untuk semua jenis kompetensi, baik pengetahuan, sikap, maupun keterampilan, yang pelaksanaannya disesuaikan dengan karakteristik kompetensi mata pelajaran yang dipelajari. Salah satu penentu keberhasilan pembelajaran ini adalah perencanaan dan persiapan materi pembelajaran yang akan disampaikan. Adapun perencanaan materi dimaksud adalah tersedianya kurikulum dan bahan ajar.
Bahan ajar yang dapat digunakan dalam pembelajaran tatap muka menggunakan modul cetak, sedangkan pembelajaran daring menggunakan modul, lembar kerja dan lembar informasi yang disusun dan disajikan secara digital. Bahan ajar tatap muka terdiri dari bahan cetak yang setiap modul di dalamnya terdapat modul untuk kompetensi pedagogik dan kompetensi professional. Di bawah ini terdapat modul-modul beberapa mata pelajaran yang terdiri 10 modul untuk setiap mata pelajaran dan dapat anda download dengan meng-klik judul modulnya. Mudah-mudahan bermanfaat. “Maju Bersama, Hebat Semua”!

 Modul Guru Pembelajar Tingkat SMP
  1. Modul Guru Pembelajar Modul PJOK SMP
  2. Modul Guru Pembelajar IPS SMP
  3. Modul Guru Pembelajar Bahasa Inggris SMP
  4. Modul GP Matematika SMP
  5.  Modul GP PKN SMP
  6.  Modul Guru Pembelajar TIK SMP
  7. Modul Guru Pembelajar BK SMP
Modul Guru Pembelajar Tingkat SMA/SMK

1. Kimia
    a. Modul A   b. Modul B   c. Modul C   d. Modul D   e. Modul E
    f. Modul F   g. Modul G    h. Modul H    i. Modul I    j. Modul J

2. Bahasa Indonesia
  a. Modul A  b. Modul B  c. Modul C  d. Modul D   e. Modul E
  f. Modul F  g. Modul G   h. Modul H   i. Modul I   j. Modul J

3. Fisika
  a. Modul A  b. Modul B  c. Modul C  d. Modul D  e. Modul E
  f. Modul F  g. Modul G  h. Modul H  i. Modul I  j. Modul J

4. Bimbingan dan Konseling
  a. Modul A  b. Modul B  c. Modul C  d. Modul D  e. Modul E
  f. Modul F  g. Modul G  h. Modul H  i. Modul I  j. Modul J

5. Biologi
  a. Modul A  b. Modul B  c. Modul C  d. Modul D  e. Modul E
  f. Modul F  g. Modul G  h. Modul H  i. Modul I  j. Modul J

6. Matematika
  a. Modul A   b. Modul B   c. Modul C   d. Modul D   e. Modul E
  f. Modul F   g. Modul G   h. Modul H   i. Modul I   j. Modul J

7. Pendidikan Jasmani Olah Raga dan Kesehatan
  a. Modul A   b. Modul B   c. Modul C   d. Modul D   e. Modul E
  f. Modul F   g. Modul G   h. Modul H   i. Modul I   j. Modul J

8. Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan
  a. Modul A    b. Modul B    c. Modul C    d. Modul D    e. Modul E
  f. Modul F    g. Modul G    h. Modul H    i. Modul I    j. Modul J

9. Geografi
  a. Modul A    b. Modul B    c. Modul C    d. Modul D    e. Modul E
  f. Modul F    g. Modul G    h. Modul H    i. Modul I    j. Modul J

10. Sosiologi
  a. Modul A    b. Modul B    c. Modul C    d. Modul D    e. Modul E
  f. Modul F    g. Modul G    h. Modul H    i. Modul I    j. Modul J

11. TIK
  a. Modul A    b. Modul B    c. Modul C    d. Modul D    e. Modul E
  f. Modul F    g. Modul G    h. Modul H    i. Modul I    j. Modul J

12. Bahasa Inggris 
  a. Modul A    b. Modul B    c. Modul C    d. Modul D    e. Modul E
  f. Modul F    g. Modul G    h. Modul H    i. Modul I  j. Modul J

Sabtu, 13 Agustus 2016

Program Guru Pembelajar

Guru pembelajar merupakan program untuk peningkatan kompetensi guru di seluruh nusantara. Dasar dari pelaksanaan ini adalah hasil UKG tahun 2015. Ada yang menjadi pengampu atau narasumber nasional dengan hasil UKG 81 - 100, instruktur nasional dengan hasil UKG 71 - 100, sedangkan peserta terbagi dengan model tatap muka dan dalam jaringan (Daring). Bagi peserta tatap muka kalau ada 8 - 10 modul kompetensi yang belum terkuasai, 6 - 7 modul belum terkusai maka menggunakan model dasar kombinasi daring dan tatap muka, sedangkan bila ada 3 - 5 modul kompetensi yang tidak terkuasai maka dengan menggunakan model dasar daring. Secara lebih jelas dapat dilihat pada uraian berikut yang dilengkapi dengan bahan panduan yang bisa di download pada bagian bagian akhir tulisan ini. Mudah-mudahan bermanfaat.

A.     Pengertian
Program Peningkatan Kompetensi Guru Pembelajar adalah upaya peningkatan kompetensi guru yang melibatkan Pemerintah serta partisipasi publik yang meliputi pemerintah daerah, asosiasi profesi, perguruan tinggi, dunia usaha dan dunia industri, organisasi kemasyarakatan, serta orangtua siswa. Program Peningkatan Kompetensi Guru Pembelajar sebagaimana dimaksud dilaksanakan dengan menggunakan tiga moda pembelajaran, yakni tatap muka, pembelajaran dalam jejaring (daring), dan pembelajaran kombinasi antara tatap muka dengan pembelajaran dalam jejaring (daring kombinasi).
Selanjutnya juga Program Peningkatan Kompetensi Guru Pembelajar merupakan proses penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar dalam rangka meningkatkan kemampuan dan kompetensi guru dalam melaksanakan tugas profesinya. Peningkatan kemampuan tersebut mencakup kegiatan-kegiatan yang bertujuan untuk perbaikan dan pertumbuhan kemampuan (abilities), sikap (attitude), dan keterampilan (skill). Dari kegiatan ini diharapkan akan menghasilkan suatu perubahan perilaku guru yang secara nyata perubahan perilaku tersebut berdampak pada peningkatan kinerja guru dalam proses belajar mengajar di kelas. 
Program Peningkatan Kompetensi Guru Pembelajar dirancang berdasarkan Standar Kompetensi Guru (SKG) yang mengacu pada Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru, Permendiknas Nomor 27 Tahun 2008 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Konselor, Permendiknas Nomor 32 Tahun 2008 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru Pendidikan Khusus, dan Permendikbud Nomor 137 Tahun 2014 tentang Standar Nasional Pendidikan Anak Usia Dini. Berdasarkan Indikator Pencapaian.
Kompetensi (IPK) dalam SKG dikembangkan peta kompetensi guru yang dibagi menjadi 10 kelompok kompetensi. Selanjutnya, dari 10 kelompok kompetensi dikembangkan kisi-kisi soal UKG, dan untuk masing-masing kelompok kompetensi dikembangkan juga modul peningkatan kompetensi guru pembelajar. Hasil UKG menjadi acuan dalam penilaian diri (self assessment) bagi guru tentang kompetensinya sehingga dapat menetapkan modul peningkatan kompetensi guru pembelajar yang dibutuhkan untuk meningkatkan kompetensinya, dan menjadi acuan bagi penyelenggara Program Peningkatan Kompetensi Guru Pembelajar untuk melakukan analisis kebutuhan.

Kumpulan Modul Pedagogik dan Profesional Guru Pembelajar



Pembelajaran dalam moda tatap muka dan moda daring dapat dilakukan untuk semua jenis kompetensi, baik pengetahuan, sikap, maupun keterampilan, yang pelaksanaannya disesuaikan dengan karakteristik kompetensi mata pelajaran yang dipelajari. Salah satu penentu keberhasilan pembelajaran ini adalah perencanaan dan persiapan materi pembelajaran yang akan disampaikan. Adapun perencanaan materi dimaksud adalah tersedianya kurikulum dan bahan ajar.
Bahan ajar yang dapat digunakan dalam pembelajaran tatap muka menggunakan modul cetak, sedangkan pembelajaran daring menggunakan modul, lembar kerja dan lembar informasi yang disusun dan disajikan secara digital. Bahan ajar tatap muka terdiri dari bahan cetak yang setiap modul di dalamnya terdapat modul untuk kompetensi pedagogik dan kompetensi professional. Di bawah ini terdapat modul-modul beberapa mata pelajaran yang terdiri 10 modul untuk setiap mata pelajaran dan dapat anda download dengan meng-klik judul modulnya. Mudah-mudahan bermanfaat. “Maju Bersama, Hebat Semua”!

1. Mata Pelajaran Kimia
    a. Modul A
    b. Modul B
    c. Modul C
    d. Modul D
    e. Modul E
    f. Modul F
    g. Modul G
    h. Modul H
    i. Modul I
    j. Modul J

Struktur Organisasi MGMP Kimia Kota Batam Tahun Pelajaran 2016-2017


Sabtu, 09 Mei 2015

STUDY TOUR KE PT. ECOGREEN OLEOCHEMICALS BATAM

Salam Sukses untuk semua guru kimia di Batam.
Kunjungan ke PT. Ecogreen Oleochemical dalam rangka study tour MGMP Kimia Kota Batam akan dilaksanakan pada :
Hari/Tanggal          : Selasa/19 Mei 2015
Tempat Berkumpul : Kepri Mall
Pukul                    : 09.00 WIB
Pakaian                 : Seragam MGMP
Diharapkan semua guru kimia SMA/MA Kota Batam dapat berpartisipasi dalam kegiatan ini.

                                                                                               Tertanda
                                                                                               Ketua MGMP Kimia Kota Batam


                                                                                               Adi Saputra, M.Pd

Selasa, 03 Februari 2015

Cara Pembuatan Modul Pembelajaran

Tulisan ini bertujuan untuk sebagai panduan dalam membuat modul pembelajaran. Apalagi sekarang dengan sistem kenaikan pangkat yang mengharuskan guru untuk membuat karya tulis untuk dinilai sebagai angka kredit. Maka pembuatan modul dapat sebagai salah solusi disamping juga merupakan bahan ajar yang bermanfaat bagi siswa. Pada tulisan ini juga dilengkapi contoh modul yang dapat Anda download. Semoga tulisan ini bermanfaat.

A.       Pengertian Modul
Materi pembelajaran pada suatu modul, disusun den disajikan sedemikian rupa agar siswa secara mandiri dapat memahami materi yang disajikan. Modul umumnya terdiri dari:
1.    Petunjuk siswa
2.    Isi materi bahasan (uraian dan contoh)
3.    Evaluasi
4.    Kunci jawaban evaluasi
5.    Pegangan guru (bila ada)
Ciri lain dari modul adalah dalam satu modul terdapat beberapa kegiatan belajar yang harus diselesaikan dalam kurun waktu tertentu dan di setiap akhir pembelajaran terdapat umpan balik dan tindak lanjut.
Umumnya satu modul menyajikan satu topik materi bahasan yang merupakan satu unit program pembelajaran tertentu.

Kamis, 06 Juni 2013

KURIKULUM 2013

Oleh
Adi Saputra, M.Pd

Saat ini Kementerian Pendidikan Nasional sedang mengevaluasi kurikulum yang berlaku sekarang ini untuk dilakukan perubahan atau perbaikan. Perubahan-perubahan itu antara lain pengurangan jumlah mata pelajaran mulai dari tingkat sekolah dasar sampai dengan sekolah menengah tingkat atas, pemetaan standar kompetensi lulusan untuk menghindari overlapping materi, masalah mata pelajaran dan penjurusan di SMA, pembagian tanggungjawab terhadap mata pelajaran dalam KTSP, dan permasalahan hubungan SMA-SMK.
            Mata pelajaran pada sekolah dasar direncanakan sekitar lima mata pelajaran, yaitu pendidikan agama, pendidikan kewarganegaraan, bahasa Indonesia, olah raga, dan kesenian. Sedangkan IPA dan IPS merupakan materi yang diintegrasikan ke dalam lima pelajaran tadi. Misalnya tema wacana dari bahasa Indonesia diambil dari materi IPA atau IPS. Untuk tingkat SLTP direncanakan IPA atau IPS digabung menjadi ilmu pengetahuan umum. Selanjutnya untuk tingkat SLTA, terdiri dari enam pelajaran yang merupakan tanggungjawab pusat untuk membuat silabus dan bahan ajarnya yang disebut dengan mata pelajaran wajib kelompok A. Lima pelajaran tersebut adalah pendidikan agama dan budi pekerti, pendidikan pancasila dan kewarganegaraan, bahasa Indonesia, bahasa inggris, matematika dan sejarah Indonesia. Sedangkan mata pelajaran wajib kelompok B adalah seni budaya, prakarya dan kewirausahaan, dan penjasorkes. Mata pelajaran lain ada yang  merupakan tanggungjawab daerah yang dihubungkan dengan muatan lokal serta ada mata pelajaran yang merupakan tanggungjawab satuan pendidikan.
            Standar Kompetensi Lulusan dipetakan untuk menghindari tumpang tindih antara satu mata pelajaran dengan mata pelajaran lainnya. SKL tersebut dijabarkan menjadi mata pelajaran-mata pelajaran. Sehingga nantinya mata pelajaran TIK kemungkinan tidak diajarkan lagi, namun menjadi budaya siswa dari tingkat SD sampai SLTA. Sedangkan penjurusan atau istilah sekarang peminatan di SMA akan diarahkan siswa untuk mengambil mata pelajaran yang menjadi minatnya untuk di perguruan tinggi nantinya yang dimulai dari kelas X. Disamping mata pelajaran yang disebutkan tadi akan ada lagi mata pelajaran lintas minat dan pendalaman sebanyak 6 JP untuk kelas X dan 4 JP untuk kelas XI dan XII.
             Di samping itu juga ada istilah kompetensi inti yang terdiri dari 4 kompetensi untuk setiap KD-nya. Kompetensi inti 1 merupakan kompetensi keagamaan, kompetensi 2 adalah kompetensi sosial, kompetensi 3 adalah kompetensi pengetahuan, dan kompetensi 4 adalah kompetensi penerapan pengetahuan. Sejatinya kompetensi 1, 2, dan 4 harus menyukseskan kompetensi 3. Sehingga nantinya di dalam RPP akan ada indikator untuk setiap kompetensi.
            Selain hal-hal di atas, masalah SKS diarahkan untuk tetap akan dilaksanakan dengan cara menarik mata kuliah untuk di ajarkan di SMA bila siswa yang cerdas. Sedangkan hubungan SMA dan SMK akan dievaluasi dengan kemungkinan aka nada mata pelajaran di SMK akan dipelajari oleh siswa SMA yang tidak akan melanjutkan ke PT atau sebaliknya siswa SMK akan belajar ke SMA bila ingin melanjutkan ke PT. Di samping itu juga ada wacana untuk mengurangi jam wajib guru dari 24 jam pelajaran per minggu menjadi 16-18 jam pelajaran per minggu.
            
Download:
1. Bahan Presentasi (PPT) 
2. Pedoman Implementasi
3. Kompetensi Dasar SMA

Selasa, 02 Oktober 2012

212 WEBSITE UNTUK PEMBELAJARAN

Oleh:
Adi Saputra, M.Pd
 Internet pada saat ini sudah merupakan suatu keharusan untuk dapat digunakan di dalam dunia pendidikan. Guru juga diharapkan untuk dapat selalu mengakses internet ini agar dapat digunakan di dalam proses pembelajaran. Internet bermanfaat bagi guru mulai dari mengambil bahan ajar, silabus atau RPP, modul, buku, software, email, dan bahan lain yang dapat digunakan di dalam kelas. Sehingga nantinya guru tidak ketinggalan dari siswa yang kadang-kadang lebih pintar dari guru di dalam mengakses dunia maya ini. Di bawah ini ada 212 alamat website yang bisa digunakan para guru untuk mendapatkan berbagai informasi dan dibagi dua kelompok, yaitu website umum dan website mata pelajaran. Anda tinggal meng-copy paste alamatnya ke address komputer Anda atau langsung meng-klik alamatnya..
A.        Website Umum
1.            http://www.psb-psma.org/
Pusat Sumber Belajar merupakan website yang dikembangkan oleh Direktorat Pembinaan SMA yang berisi bahan ajar tutorial dan bahan ajar mandiri. Bahan ajar tutorial diperuntukkan untuk guru yang dapat digunakan di dalam pembelajaran di kelas. Sedangkan bahan ajar mandiri untuk siswa sebagai bahan belajar mandiri yang tanpa memerlukan guru. Untuk dapat men-download bahan ajar pada website ini, maka anda diharuskan dulu untuk mendaftar.

2.            http://belajar.kemdiknas.go.id/
Rumah Belajar merupakan portal bahan belajar dan jaringan komunitas sekolah yang dibina dan dikembangkan oleh Pusat Teknologi Komunikasi dan Informasi (Pustekkom) Depdiknas. Situs ini berisi bahan belajar online untuk siswa yang juga dapat dimanfaatkan guru untuk meningkatkan pemahaman mereka akan bahan ajar.

3.             http://blogguru.net/
Blogguru diperuntukkan bagi tenaga pengajar untuk memikirkan, menuliskan, dan bertukar informasi atau pengetahuan untuk mendukung gerakan guru menulis melalui blog. Web ini memang sebagai tempat untuk membuat blog dengan menggunakan engine wordpress. Untuk mempermudah, Blogguru memberikan panduan begaimana menggunakan Blogguru.

4.             http://beritapendidikan.com/
Tujuan utama website BeritaPendidikan.com adalah membantu pelajar dan guru di Indonesia untuk mencari informasi mengenai perkembangan pendidikan.

5.             http://www.berani.co.id/
Website koran anak Indonesia, Berani. Website ini merupakan versi online dari koran anak Berani yang terbit setiap hari.

6.             http://www.bestfreewaredownload.com/
Website yang berisi software gratis untuk berbegai bidang termasuk untuk pendidikan.

7.             http://bse.depdiknas.go.id/
Merupakan situs Depdiknas yang menyediakan buku sekolah elektronik. Buku-buku teks pelajaran ini telah dinilai kelayakannya oleh Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP).

8.             http://bsnp-indonesia.org/id/
Website ini merupakan website Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP).

9.             http://www.chem-is-try.org/
Website ini merupakan situs komunitas kimia Indonesia, berisi berbagai macam artikel, bahan ajar tentang kimia.

CeritaRakyatNusantara.com adalah portal (pangkalan data) berisi cerita-cerita rakyat nusantara yang mengandung nilai etika, moral, spiritual, dan kearifan lokal sesuai dengan kultur yang hidup di tempat cerita rakyat tersebut berasal.

Rabu, 23 Mei 2012

PENDEKATAN ICARE


Dalam penyusunan perangkat pembelajaran tiap pelajaran untuk belajar aktif, digunakan satu kerangka yang sangat sederhana, yaitu disebut ICARE. Sistem ICARE mancakup lima elemen kunci suatu pengalaman belajar yang baik, yang dapat diterapkan terhadap peserta didik. Oleh karena itu, sistem ICARE sangat baik untuk diterapkan dalam proses belajar di sekolah. ICARE adalah singkatan dari: Introduction, Connection, Application, Reflection, dan Extension.Penggunaan sistem ICARE sangat memberi peluang kepada peserta didik untuk memiliki kesempatan mengaplikasikan apa yang telah mereka pelajari dalam pelatihan. Namun juga harus diingat bahwasanya perangkat tersebut harus memenuhi aturan sesuai dengan standar proses yang terdapat dalam Permendiknas no 41 tahun 2007. Dalam Permendiknas tersebut terdapat eksplorasi, elaborasi, dan konfirmasi. Di samping itu juga memasukkan pendidikan budaya karakter bangsa dan kewirausahaan. Berikut ini dijelaskan secara rinci kerangka ICARE.

1.      I = Introduction (Pendahuluan)
Pada tahap pengalaman belajar ini guru atau fasilitator menetapkan materi pelajaran kepada peserta didik. Ini harus mencakup menyiapkan peserta didik secara psikis dan fisik untuk mengikuti proses pembelajaran, penjelasan tujuan pembelajaran, dan menyampaikan cakupan materi serta penjelasan uraian kegiatan sesuai silabus.

2.      C = Connection (Koneksi)
Koneksi merupakan tahap pengkaitan antara pengetahuan yang dimiliki peserta didik sebelumnya. Dalam banyak hal, proses belajar itu berurutan (sequential) dengan membangun suatu kompetensi di atas suatu kompetensi sebelumnya. Karena itu, semua pengalaman belajar yang baik harus dimulai dari apa yang peserta didik telah tahu dan dapat dilakukan serta dapat dibangun di atasnya. Pada tahap connection pembelajaran guru mencoba mengaitkan materi pembelajaran yang baru dengan pengalaman belajar sebelumnya. Guru dapat mencapainya dengan melakukan latihan brainstorming sederhana untuk mengenali apa yang telah diketahui peserta didik, dengan meminta peserta didik mengatakan kepada guru apa yang mereka ingat dari pembelajaran sebelumnya atau dengan mengembangkan suatu kegiatan yang dapat dilakukan peserta didik secara mandiri. Dengan mengikuti hal ini guru menghubungkan peserta didik dengan materi yang baru. Namun, yang perlu diperhatikan adalah bahwa tahap ini dilakukan tidak terlalu lama menghabiskan waktu. Paling lama waktu dugunakan sekitar sepuluh menit.

Selasa, 22 Mei 2012

PERKEMBANGAN PSIKOLOGI ANAK UNTUK GURU DAN ORANG TUA

Oleh:
Adi Saputra

            Sejak abad ke-20 mulai terjadi perubahan besar mengenai konsepsi pendidikan dan pengajaran. Perubahan tersebut membawa perubahan pula dalam cara-cara pembelajaran di sekolah. Dari cara pengajaran lama dimana siswa-siswa harus diajar dengan diberi pengetahuan sebanyak mungkin dalam berbagai mata pelajaran, berangsur-angsur beralih menuju ke arah penyelenggaraan sekolah progresif, sekolah kerja, sekolah pembangunan, dan sekolah yang menekankan pada keaktifan siswa di dalam pembalajaran. Mula-mula situasi pembelajaran di sekolah lebih menonjolkan peranan guru dengan tujuan untuk penguasaan materi pelajaran yang direncanakan oleh guru (teacher centre). Siswa lebih bersifat pasif dan hanya tinggal menerima apa yang disuguhkan oleh guru. Kurikulum sepenuhnya direncanakan dan disusun oleh guru atau sekolah tanpa mengikutsertakan siswa.
            Berdasarkan studi psikologi belajar yang baru serta sosiologi pendidikan, maka masyarakat pendidikan menghendaki agar pengajaran memperhatikan minat, kebutuhan, dan kesiapan siswa untuk belajar, serta dimaksudkan untuk mencapai tujuan-tujuan sosial sekolah. Gagasan ini awalnya dikemukakan oleh John Dewey dengan “pendidikan progresif”, yang menggambarkan adanya situasi kebalikan dari kenyataan mula di mana guru sebagai penguasa dan sekarang siswa memegang tampuk kepemimpinan. Dengan perkataan lain jika dulu guru memegang otoritas, sekarang guru menjadi “pelayan” dari siswanya (student centre).
            Berdasarkan penjelasan di atas maka seharusnya guru atau orang tua untuk dapat memahami siswa atau anaknya. Proses memahami ini bertujuan agar guru atau orang tua bisa mengarahkan siswa atau anak untuk mencapai tujuan pembelajaran atau tujuan hidup yang sesuai dengan harapan yang dicita-citakan bersama. Sehingga pada akhirnya tidak terjadi rasa frustasi dari guru atau orang tua karena tidak dapat memahami siswa atau anaknya. Di samping itu juga untuk menghindari kasus “salah asuhan” terhadap anak. 

Senin, 07 Mei 2012

Minggu, 06 Mei 2012

PEMBELAJARAN AKTIF

PEMBELAJARAN AKTIF (ACTIVE LEARNING)
Oleh:
Adi Saputra, M.Pd

Kata “pembelajaran” adalah terjemahan dari ” instruction” yang banyak digunakan dalam dunia pendidikan di Amerika Serikat. Pendidikan di Amerika Serikat banyak dipengaruhi oleh aliran psikologi kognitif holistic, yang menempatkan siswa sebagai sumber dari kegiatan. Selain itu juga dipengaruhi oleh perkembangan teknologi yang diasumsikan dapat mempermudah siswa mempelajari segala sesuatu lewat berbagai macam media seperti bahan-bahan cetak, internet, televise, gambar, video, dan sebagainya. Kedua hal ini mendorong terjadinya perubahan peran guru dalam mengelola proses belajar mengajar dari peran guru sebagai sumber belajar menjadi fasilitator dan katalisator dalam belajar mengajar. Kemudian Gagne menjelaskan bahwa mengajar merupakan bagian dari pembelajaran, dengan konsekuensi peran guru lebih ditekankan kepada bagaimana merancang atau mengarasemen berbagai sumber dan fasilitas yang tersedia untuk digunakan siswa dalam mempelajari sesuatu.
Aktif diartikan peserta didik maupun guru berinteraksi untuk menunjang pembelajaran. Guru harus menciptakan suasana yang mendukung sehingga peserta didik aktif bertanya, memberikan tanggapan, mengungkapkan ide dan mendemonstrasikan gagasan atau idenya tanpa takut untuk berbuat salah. Guru akan memantau kegiatan pembelajaran dengan memberikan umpan balik, mengajukan pertanyaan menantang atau pertanyaan tingkat tinggi dan mempertanyakan gagasan peserta didik. Dengan memberikan kesempatan peserta didik aktif akan mendorong kreativitas peserta didik dalam belajar maupun memecahkan masalah.
            Berdasarkan pengertian di atas sebenarnya tugas guru sewaktu pembelajaran tidaklah begitu susah. Namun sekarang masih banyak guru mengambil haknya peserta didik, misalnya untuk menjawab pertanyaan, mencari bahan, atau pun membuat kesimpulan yang dilakukan sendiri oleh guru. Jadi memang diharapkan guru lebih dominan di dalam mempersiapkan perangkat agar bisa mengaktifkan peserta didik di dalam pembelajaran. Peserta didik bisa diibaratkan seperti lilin yang sudah punya potensi untuk dibakar, guru hanya tinggal menyulutnya agar terbakar. Bukan tugas guru untuk membuat lilin sampai dia bisa terbakar.
            Di samping itu juga guru diharapkan harus memahami karakteristik peserta didik baik dalam hal gaya belajar, gaya berpikir, maupun jenis kecerdasan yang dimiliki oleh peserta didik. Gaya belajar peserta didik dapat digolongkan visual, auditorial, dan kinestetik. Gaya berpikir dapat dikelompokkan gaya berpikir otak kiri, otak kanan, atau kombinasi. Sedangkan jenis kecerdasan dapat berupa linguistik, logika-matematik, visual spasial, musikal, kinestetik, interpersonal, intrapersonal, dan naturalis.
            Pembelajaran aktif ini didukung juga dengan teori belajar konstruktivisme yang menyatakan belajar tersebut bermakna bila peserta didik sendirilah yang menyusunnya menjadi suatu yang bermakna baginya. Hal ini juga sesuai dengan kerucut pengalaman dan pepatah cina seperti pada gambar di bawah ini.
 
Jadi berdasarkan paparan di atas, marilah kita para guru merubah cara mengajar kita dari teacher centre (berpusat pada guru) ke student centre (berpusat kepada siswa).
Agar lebih mudah memahami pembelajaran aktif, maka dapat mendownload Buku Belajar Aktif SMA

Minggu, 22 April 2012

UNDANGAN PELATIHAN

Guru-guru kimia se-Kota Batam baik yang mengajar di sekolah negeri maupun swasta, kami mengundang Bapak/Ibu untuk ikut Pelatihan Peningkatan Profesional Guru. Pelatihan ini bertujuan untuk meningkatkan kualitas guru kimia di dalam profesinya. Pelatihan ini akan dilaksanakan pada :

Hari/Tanggal  : Selasa/1 Mei 2012
Tempat          : SMA Negeri 3 Batam
Jam               : 08.00 WIB - Selesai
Narasumber  : Bapak Bagus Bagza dari Jakarta
Materi           : Penelitian Tindakan Kelas (PTK)



                                                                                Batam, 27 Maret 2012
                                                                                Ketua MGMP Kimia Kota Batam


                                                                                TTD






                                                                                Adi Saputra, M.Pd

INSTRUMEN PENILAIAN RANAH KOGNITIF DAN PSIKOMOT

Instrumen penilaian  yang dapat dipakai dalam sistem penilaian berbasis kompetensi dapat terkait dengan ranah kognitif ataupun psikomotor, antara lain yaitu sebagai berikut.
1.    Kuis: Waktu yang diperlukan relatif singkat, kurang lebih 15 menit dan hanya menanyakan hal-hal yang prinsip saja dan bentuknya berupa jawaban singkat dengan tingkat berpikir rendah. Biasanya kuis diberikan sebelum pelajaran baru dimulai, untuk mengetahui penguasaan pelajaran yang lalu secara singkat. Namun bisa juga kuis diberikan setelah pembelajaran selesai, yaitu untuk mengetahui pemahaman peserta didik terhadap bahan ajar yang baru diajarkan. Bila ada bagian pelajaran yang belum dikuasai, sebaiknya guru menjelaskan kembali dengan menggunakan metode pembelajaran yang berbeda.
2.    Pertanyaan lisan di kelas: Materi yang ditanyakan berupa pemahaman terhadap konsep, prinsip, atau teorema. Teknik bertanya yang baik adalah mengajukan pertanyaan ke kelas, memberi waktu sebentar untuk berpikir, dan kemudian memilih peserta didik secara acak untuk menjawab. Jawaban peserta didik benar atau salah selalu diberikan ke peserta didik lain atau minta pendapatnya terhadap jawaban peserta didik yang pertama. Kemudian guru menyimpulkan tentang jawaban peserta didik yang benar. Pertanyaan lisan ini bisa dilakukan di awal pelajaran, di tengah,  atau di akhir pelajaran. Dalam arti  kata bahwa pertanyaan bisa diberikan sepanjang kegiatan pembelajaran berlangsung.

3.    Ulangan harian : Ulangan harian adalah kegiatan yang dilakukan secara periodik untuk mengukur pencapaian kompetensi peserta didik setelah menyelesaikan satu Kompetensi Dasar (KD) atau lebih. Bentuk soal yang digunakan sebaiknya bentuk uraian objektif atau yang non-objektif. Tingkat berpikir yang terlibat sebaiknya mencakup sampai ke tingkat berpikir tinggi.
4.    Tugas individu : Tugas individu dapat diberikan setiap minggu dengan bentuk tugas/soal uraian objektif atau non-objektif. Tingkat berpikir yang terlibat sebaiknya aplikasi, analisis, bila mungkin sampai sintesis dan evaluasi. Tugas individu untuk mata pelajaran tertentu dapat terkait dengan ranah psikomotor, seperti menugasi peserta didik untuk melakukan observasi lapangan dalam Geografi atau menugasi peserta didik untuk berlatih tari dan musik pada pelajaran Seni Budaya.
5.    Tugas kelompok : Tugas kelompok digunakan untuk menilai kemampuan kerja kelompok. Bentuk soal yang digunakan adalah uraian dengan tingkat berpikir yang tinggi yaitu aplikasi sampai evaluasi. Bila mungkin peserta didik diminta untuk menggunakan data sebenarnya, melakukan pengamatan terhadap suatu gejala, atau merencanakan sesuatu proyek. Proyek pada umumnya menggunakan data sesungguhnya dari lapangan. Seperti halnya tugas individu, tugas kelompok dapat terkait dengan ranah psikomotor.
6.    Laporan kerja praktik atau laporan praktikum : Bentuk ini dipakai untuk mata pelajaran yang ada kegiatan praktikumnya, seperti Fisika, Kimia, dan Biologi. Peserta didik bisa diminta untuk mencatat dan melaporkan hasil praktik yang telah dilakukan.
7.    Responsi atau ujian praktik : Bentuk ini dipakai untuk mata pelajaran yang ada kegiatan praktikumnya, seperti Fisika, Kimia, dan Biologi yaitu untuk mengetahui penguasaan akhir baik dari ranah kognitif maupun psikomotor. Ujian responsi bisa dilakukan diawal praktik atau setelah melakukan praktik. Ujian dilakukan sebelum praktik bertujuan untuk mengetahui kesiapan peserta didik melakukan praktik di laboratorium, sedang bila dilakukan setelah praktik, tujuannya untuk mengetahui kompetensi dasar praktik yang dicapai peserta didik dan yang belum.
Tingkat berpikir peserta didik yang terlibat dalam mengerjakan tugas-tugas dalam sistem penilaian yang berbasis kompetensi meliputi: tingkat berpikir yang berkait dengan pengetahuan deklaratif dan pengetahuan prosedural. Deklaratif berisi tentang konsep, prinsip, dan fakta-fakta, sedang prosedural mencakup proses, strategi, aplikasi, dan keterampilan.
Sumber: Rambu-Rambu Penilaian SMA