Sabtu, 13 Agustus 2016

Program Guru Pembelajar

Guru pembelajar merupakan program untuk peningkatan kompetensi guru di seluruh nusantara. Dasar dari pelaksanaan ini adalah hasil UKG tahun 2015. Ada yang menjadi pengampu atau narasumber nasional dengan hasil UKG 81 - 100, instruktur nasional dengan hasil UKG 71 - 100, sedangkan peserta terbagi dengan model tatap muka dan dalam jaringan (Daring). Bagi peserta tatap muka kalau ada 8 - 10 modul kompetensi yang belum terkuasai, 6 - 7 modul belum terkusai maka menggunakan model dasar kombinasi daring dan tatap muka, sedangkan bila ada 3 - 5 modul kompetensi yang tidak terkuasai maka dengan menggunakan model dasar daring. Secara lebih jelas dapat dilihat pada uraian berikut yang dilengkapi dengan bahan panduan yang bisa di download pada bagian bagian akhir tulisan ini. Mudah-mudahan bermanfaat.

A.     Pengertian
Program Peningkatan Kompetensi Guru Pembelajar adalah upaya peningkatan kompetensi guru yang melibatkan Pemerintah serta partisipasi publik yang meliputi pemerintah daerah, asosiasi profesi, perguruan tinggi, dunia usaha dan dunia industri, organisasi kemasyarakatan, serta orangtua siswa. Program Peningkatan Kompetensi Guru Pembelajar sebagaimana dimaksud dilaksanakan dengan menggunakan tiga moda pembelajaran, yakni tatap muka, pembelajaran dalam jejaring (daring), dan pembelajaran kombinasi antara tatap muka dengan pembelajaran dalam jejaring (daring kombinasi).
Selanjutnya juga Program Peningkatan Kompetensi Guru Pembelajar merupakan proses penyelenggaraan kegiatan belajar mengajar dalam rangka meningkatkan kemampuan dan kompetensi guru dalam melaksanakan tugas profesinya. Peningkatan kemampuan tersebut mencakup kegiatan-kegiatan yang bertujuan untuk perbaikan dan pertumbuhan kemampuan (abilities), sikap (attitude), dan keterampilan (skill). Dari kegiatan ini diharapkan akan menghasilkan suatu perubahan perilaku guru yang secara nyata perubahan perilaku tersebut berdampak pada peningkatan kinerja guru dalam proses belajar mengajar di kelas. 
Program Peningkatan Kompetensi Guru Pembelajar dirancang berdasarkan Standar Kompetensi Guru (SKG) yang mengacu pada Permendiknas Nomor 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru, Permendiknas Nomor 27 Tahun 2008 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Konselor, Permendiknas Nomor 32 Tahun 2008 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru Pendidikan Khusus, dan Permendikbud Nomor 137 Tahun 2014 tentang Standar Nasional Pendidikan Anak Usia Dini. Berdasarkan Indikator Pencapaian.
Kompetensi (IPK) dalam SKG dikembangkan peta kompetensi guru yang dibagi menjadi 10 kelompok kompetensi. Selanjutnya, dari 10 kelompok kompetensi dikembangkan kisi-kisi soal UKG, dan untuk masing-masing kelompok kompetensi dikembangkan juga modul peningkatan kompetensi guru pembelajar. Hasil UKG menjadi acuan dalam penilaian diri (self assessment) bagi guru tentang kompetensinya sehingga dapat menetapkan modul peningkatan kompetensi guru pembelajar yang dibutuhkan untuk meningkatkan kompetensinya, dan menjadi acuan bagi penyelenggara Program Peningkatan Kompetensi Guru Pembelajar untuk melakukan analisis kebutuhan.

Kumpulan Modul Pedagogik dan Profesional Guru Pembelajar



Pembelajaran dalam moda tatap muka dan moda daring dapat dilakukan untuk semua jenis kompetensi, baik pengetahuan, sikap, maupun keterampilan, yang pelaksanaannya disesuaikan dengan karakteristik kompetensi mata pelajaran yang dipelajari. Salah satu penentu keberhasilan pembelajaran ini adalah perencanaan dan persiapan materi pembelajaran yang akan disampaikan. Adapun perencanaan materi dimaksud adalah tersedianya kurikulum dan bahan ajar.
Bahan ajar yang dapat digunakan dalam pembelajaran tatap muka menggunakan modul cetak, sedangkan pembelajaran daring menggunakan modul, lembar kerja dan lembar informasi yang disusun dan disajikan secara digital. Bahan ajar tatap muka terdiri dari bahan cetak yang setiap modul di dalamnya terdapat modul untuk kompetensi pedagogik dan kompetensi professional. Di bawah ini terdapat modul-modul beberapa mata pelajaran yang terdiri 10 modul untuk setiap mata pelajaran dan dapat anda download dengan meng-klik judul modulnya. Mudah-mudahan bermanfaat. “Maju Bersama, Hebat Semua”!

1. Mata Pelajaran Kimia
    a. Modul A
    b. Modul B
    c. Modul C
    d. Modul D
    e. Modul E
    f. Modul F
    g. Modul G
    h. Modul H
    i. Modul I
    j. Modul J

Struktur Organisasi MGMP Kimia Kota Batam Tahun Pelajaran 2016-2017


Sabtu, 09 Mei 2015

STUDY TOUR KE PT. ECOGREEN OLEOCHEMICALS BATAM

Salam Sukses untuk semua guru kimia di Batam.
Kunjungan ke PT. Ecogreen Oleochemical dalam rangka study tour MGMP Kimia Kota Batam akan dilaksanakan pada :
Hari/Tanggal          : Selasa/19 Mei 2015
Tempat Berkumpul : Kepri Mall
Pukul                    : 09.00 WIB
Pakaian                 : Seragam MGMP
Diharapkan semua guru kimia SMA/MA Kota Batam dapat berpartisipasi dalam kegiatan ini.

                                                                                               Tertanda
                                                                                               Ketua MGMP Kimia Kota Batam


                                                                                               Adi Saputra, M.Pd

Selasa, 03 Februari 2015

Cara Pembuatan Modul Pembelajaran

Tulisan ini bertujuan untuk sebagai panduan dalam membuat modul pembelajaran. Apalagi sekarang dengan sistem kenaikan pangkat yang mengharuskan guru untuk membuat karya tulis untuk dinilai sebagai angka kredit. Maka pembuatan modul dapat sebagai salah solusi disamping juga merupakan bahan ajar yang bermanfaat bagi siswa. Pada tulisan ini juga dilengkapi contoh modul yang dapat Anda download. Semoga tulisan ini bermanfaat.

A.       Pengertian Modul
Materi pembelajaran pada suatu modul, disusun den disajikan sedemikian rupa agar siswa secara mandiri dapat memahami materi yang disajikan. Modul umumnya terdiri dari:
1.    Petunjuk siswa
2.    Isi materi bahasan (uraian dan contoh)
3.    Evaluasi
4.    Kunci jawaban evaluasi
5.    Pegangan guru (bila ada)
Ciri lain dari modul adalah dalam satu modul terdapat beberapa kegiatan belajar yang harus diselesaikan dalam kurun waktu tertentu dan di setiap akhir pembelajaran terdapat umpan balik dan tindak lanjut.
Umumnya satu modul menyajikan satu topik materi bahasan yang merupakan satu unit program pembelajaran tertentu.

Kamis, 06 Juni 2013

KURIKULUM 2013

Oleh
Adi Saputra, M.Pd

Saat ini Kementerian Pendidikan Nasional sedang mengevaluasi kurikulum yang berlaku sekarang ini untuk dilakukan perubahan atau perbaikan. Perubahan-perubahan itu antara lain pengurangan jumlah mata pelajaran mulai dari tingkat sekolah dasar sampai dengan sekolah menengah tingkat atas, pemetaan standar kompetensi lulusan untuk menghindari overlapping materi, masalah mata pelajaran dan penjurusan di SMA, pembagian tanggungjawab terhadap mata pelajaran dalam KTSP, dan permasalahan hubungan SMA-SMK.
            Mata pelajaran pada sekolah dasar direncanakan sekitar lima mata pelajaran, yaitu pendidikan agama, pendidikan kewarganegaraan, bahasa Indonesia, olah raga, dan kesenian. Sedangkan IPA dan IPS merupakan materi yang diintegrasikan ke dalam lima pelajaran tadi. Misalnya tema wacana dari bahasa Indonesia diambil dari materi IPA atau IPS. Untuk tingkat SLTP direncanakan IPA atau IPS digabung menjadi ilmu pengetahuan umum. Selanjutnya untuk tingkat SLTA, terdiri dari enam pelajaran yang merupakan tanggungjawab pusat untuk membuat silabus dan bahan ajarnya yang disebut dengan mata pelajaran wajib kelompok A. Lima pelajaran tersebut adalah pendidikan agama dan budi pekerti, pendidikan pancasila dan kewarganegaraan, bahasa Indonesia, bahasa inggris, matematika dan sejarah Indonesia. Sedangkan mata pelajaran wajib kelompok B adalah seni budaya, prakarya dan kewirausahaan, dan penjasorkes. Mata pelajaran lain ada yang  merupakan tanggungjawab daerah yang dihubungkan dengan muatan lokal serta ada mata pelajaran yang merupakan tanggungjawab satuan pendidikan.
            Standar Kompetensi Lulusan dipetakan untuk menghindari tumpang tindih antara satu mata pelajaran dengan mata pelajaran lainnya. SKL tersebut dijabarkan menjadi mata pelajaran-mata pelajaran. Sehingga nantinya mata pelajaran TIK kemungkinan tidak diajarkan lagi, namun menjadi budaya siswa dari tingkat SD sampai SLTA. Sedangkan penjurusan atau istilah sekarang peminatan di SMA akan diarahkan siswa untuk mengambil mata pelajaran yang menjadi minatnya untuk di perguruan tinggi nantinya yang dimulai dari kelas X. Disamping mata pelajaran yang disebutkan tadi akan ada lagi mata pelajaran lintas minat dan pendalaman sebanyak 6 JP untuk kelas X dan 4 JP untuk kelas XI dan XII.
             Di samping itu juga ada istilah kompetensi inti yang terdiri dari 4 kompetensi untuk setiap KD-nya. Kompetensi inti 1 merupakan kompetensi keagamaan, kompetensi 2 adalah kompetensi sosial, kompetensi 3 adalah kompetensi pengetahuan, dan kompetensi 4 adalah kompetensi penerapan pengetahuan. Sejatinya kompetensi 1, 2, dan 4 harus menyukseskan kompetensi 3. Sehingga nantinya di dalam RPP akan ada indikator untuk setiap kompetensi.
            Selain hal-hal di atas, masalah SKS diarahkan untuk tetap akan dilaksanakan dengan cara menarik mata kuliah untuk di ajarkan di SMA bila siswa yang cerdas. Sedangkan hubungan SMA dan SMK akan dievaluasi dengan kemungkinan aka nada mata pelajaran di SMK akan dipelajari oleh siswa SMA yang tidak akan melanjutkan ke PT atau sebaliknya siswa SMK akan belajar ke SMA bila ingin melanjutkan ke PT. Di samping itu juga ada wacana untuk mengurangi jam wajib guru dari 24 jam pelajaran per minggu menjadi 16-18 jam pelajaran per minggu.
            
Download:
1. Bahan Presentasi (PPT) 
2. Pedoman Implementasi
3. Kompetensi Dasar SMA