Selasa, 22 Mei 2012

PERKEMBANGAN PSIKOLOGI ANAK UNTUK GURU DAN ORANG TUA

Oleh:
Adi Saputra

            Sejak abad ke-20 mulai terjadi perubahan besar mengenai konsepsi pendidikan dan pengajaran. Perubahan tersebut membawa perubahan pula dalam cara-cara pembelajaran di sekolah. Dari cara pengajaran lama dimana siswa-siswa harus diajar dengan diberi pengetahuan sebanyak mungkin dalam berbagai mata pelajaran, berangsur-angsur beralih menuju ke arah penyelenggaraan sekolah progresif, sekolah kerja, sekolah pembangunan, dan sekolah yang menekankan pada keaktifan siswa di dalam pembalajaran. Mula-mula situasi pembelajaran di sekolah lebih menonjolkan peranan guru dengan tujuan untuk penguasaan materi pelajaran yang direncanakan oleh guru (teacher centre). Siswa lebih bersifat pasif dan hanya tinggal menerima apa yang disuguhkan oleh guru. Kurikulum sepenuhnya direncanakan dan disusun oleh guru atau sekolah tanpa mengikutsertakan siswa.
            Berdasarkan studi psikologi belajar yang baru serta sosiologi pendidikan, maka masyarakat pendidikan menghendaki agar pengajaran memperhatikan minat, kebutuhan, dan kesiapan siswa untuk belajar, serta dimaksudkan untuk mencapai tujuan-tujuan sosial sekolah. Gagasan ini awalnya dikemukakan oleh John Dewey dengan “pendidikan progresif”, yang menggambarkan adanya situasi kebalikan dari kenyataan mula di mana guru sebagai penguasa dan sekarang siswa memegang tampuk kepemimpinan. Dengan perkataan lain jika dulu guru memegang otoritas, sekarang guru menjadi “pelayan” dari siswanya (student centre).
            Berdasarkan penjelasan di atas maka seharusnya guru atau orang tua untuk dapat memahami siswa atau anaknya. Proses memahami ini bertujuan agar guru atau orang tua bisa mengarahkan siswa atau anak untuk mencapai tujuan pembelajaran atau tujuan hidup yang sesuai dengan harapan yang dicita-citakan bersama. Sehingga pada akhirnya tidak terjadi rasa frustasi dari guru atau orang tua karena tidak dapat memahami siswa atau anaknya. Di samping itu juga untuk menghindari kasus “salah asuhan” terhadap anak. 

            Guru atau orang tua sering mengeluh tentang tingkah laku siswa atau anaknya yang tidak bisa di atur atau selalu membangkang. Hal ini sebenarnya tidak perlu terjadi bila guru atau orang tua memahami perkembangan psikologi anak, terutama pada masa pra-remaja. Karena pada masa ini siswa atau anak mempunyai sifat mudah marah dan jengkel atau agresif terhadap orang lain. Dengan demikian diharapkan guru bukan memarahi atau menghukum siswa atau anak tersebut melainkan mengarahkannya dengan penuh persahabatan. Jadi di sini perlu sekali guru atau orang tua memahami perkembangan psikologi siswa atau anak untuk menghindari perlakuan yang merugi baik bagi guru atau orang tua mau pun bagi siswa atau anak itu sendiri.
Maka untuk memberikan pemahaman tentang perkembangan psikologi anak, berikut ini akan dijelaskan tahap-tahap perkembangan anak yang dilengkapi perlakukan-perlakuan yang diperlukan dalam pendidikan baik di sekolah atau di rumah yang sesuai dengan tingkat-tingkat perkembangan siswa atau anak tersebut. Tahap perkembangan psikologi manusia terdiri dari sembilan tahap yang akan diuraikan secara singkat sebagai berikut:
1.        Tahap Perkembangan Prenatal (2,5 – 9 bulan)
Dalam tahap ini sebenarnya belum terjadi perkembangan psikologis pada manusia. Perkembangan yang terjadi hanyalah perkembangan fungsi dari organ-organ yang tumbuh dengan indivuduasi dan diferensiasi. Perkembangan ini lebih bersifat pematangan fungsi saraf serta refleks untuk menggerakkan tubuh insan bayi.
Perlakuan-perlakuan yang diperlukan:
a.      Penjagaan kesehatan lingkungan fisiologis ibu.
b.      Pemeliharaan makanan (gizi, protein, vitamin).
c.    Pemeliharaan tingkah laku orang tua terutama ibu yang tengah mengandung untuk menghindari sifat-sifat hereditas yang mengganggu perkembangan fungsi fisiologis bayi.
d.      Pengendalian tingkah laku dan sikap-sikap negatif pada diri ibu kandung.

2.        Tahap Perkembangan Vital (sejak lahir – 2 tahun)
Dalam tahap ini, perkembangan di mulai ketika anak dilahirkan, selama tahun pertama, dan selama tahun kedua. Pada saat-saat kelahiran terjadi tiga kejadian penting, yaitu lahir, menangis, dan tidak berdaya. Menurut Sigmund Freud, menangisnya bayi ketika dilahirkan merupakan ekspresi dari rasa takut dan keinginan untuk regresi. Rasa takut dan pemberontakan bayi terjadi karena berbedanya keadaan yang dialami ketika di dalam kandungan dengan keadaan yang baru dia rasa akibat stimuli lingkungan.
Perkembangan-perkembangan pada tahun pertama meliputi perkembangan:
a.    Fungsi-fungsi fisiologis seperti; menggerakkan anggota badan, menolehkan kepala, membuka dan menutup kepalan tangan, meremas dan menarik selimut, melihat dan meraih benda-benda, menelungkup, menelentang, merayap, duduk, merangkak, dan merambat.
b.    Fungsi-fungsi psikologis seperti; heran, terkejut, takut, gelisah, senang, menggigit makanan dan benda-benda dengan mulut, memperhatikan, dan mengamati stimuli dengan indra.
c.    Fungsi-fungsi sosial seperti; menangis, meraba, senyum, tertawa, penampilan kemarahan, memanggil mamah dan papahnya, imitasi/meniru-niru suara, gerakan atau gaya, bermain “ciluk….baaa….”, dan mengenal bahasa isyarat.
Perkembangan pada tahun kedua masih merupakan kelanjutan perkembangan pada tahun pertama. Beberapa perkembangan yang nyata pada tahun kedua ini antara lain:
a.      Segi fisiologis; dapat merambat, melempar, membanting benda, dan berjalan.
b.    Segi psikologis; dapat mengenal suara, mengenal benda, mengenal orang membedakan suara, membedakan stimuli lain, dan pembiasaan diri misalnya kencing dan buang air besar.
c.    Segi sosial; dapat menyatakan keinginan, memanggil dan mengajak, menolak ajakan, dan bermain bersama.
Perlakuan-perlakuan yang diperlukan:
a.      Pemeliharaan makanan dan gizi bagi anak.
b.    Pembiasaan (dresseur) untuk dapat hidup teratur, misalnya dalam hal makan, tidur, dan buang air.

3.        Tahap Perkembangan Ingatan ( 2 – 3 tahun)
Dalam tahap ini fungsi ingatan anak mulai berkembang. Berkembang ingatan anak disebabkan karena fungsi pengamatan yang sudah mampu menerima kesan-kesan dan dengan dibantu oleh perhatiannya mampu mengadakan pencaman terhadap kesan-kesan yang diterimanya. Di samping itu, kesadaran anak telah mampu menampung setiap hasil pengamatan.
Perlakuan-perlakuan yang diperlukan:
a.      Latihan indra.
b.      Latihan perhatian.
c.       Latihan ingatan.

4.        Tahap Perkembangan Keakuan dan Imajinasi (3 – 4 tahun)
Dalam tahap ini kesadaran anak tentang dirinya mulai timbul. Anak mulai menyadari bahwa dirinya berhubungan dengan kepentingan-kepentingan orang lain. Dia pun menyadari, bahwa ia masih dikuasai dan dibatasi oleh orang lain. Oleh kenyataan ini, anak mengalami kegoncangan psikologis. Dia ingin menunjukkan dirinya dan minta perhatian. Anak sering mengadakan perlawanan terhadap orang lain terutama terhadap orang tuanya, suka melakukan hal-hal yang bertentangan dengan keinginan orang lain seperti berbicara kasar, membanting benda, dengan sengaja melawan atau menentang aturan dan suruhan orang tua. Perkembangan tahap ini sering disebut orang sebagai masa “trotzalter”. Masa ini sering mundur sampai anak berumur 5 tahun. Dalam tahap ini, imajinasi anak juga mulai berkembang, sehingga pada masa ini anak sering berkhayal.
Perlakuan-perlakuan yang diperlukan:
a.      Menghindari perlakuan memanjakan.
b.      Menghindari perlakuan yang bersifat hukuman.
c.       Membimbing penyesuaian diri pada anak dengan lingkungannya.


5.        Tahap Perkembangan Pengamatan (4 – 6 tahun)
Sebenarnya pengamatan anak sudah berkembang sejak anak masih berumur 2 tahun, namun pada tahap ini pengamatan berkembang dengan pesat. Bahkan fungsi pengamatan anak dalam usia ini sangat dominan, sehingga mempengaruhi perkembangan aspek-aspek lain dari pribadi anak. Dengan dominannya perkembangan pengamatan anak pada usia ini maka pengenalan anak terhadap alam sekitar semakin meluas dan terarah.  Anak mulai aktif mempelajari seluk beluk alam sekitar dengan pengindraannya yang sangat peka. Anak suka mendengarkan lagu anak-anak, cerita anak-anak, melihat gerak-gerik, benda-benda, dan gambar-gambar.
Perlakuan-perlakuan yang diperlukan:
a.      Menciptakan lingkungan yang sehat dan mendidik.
b.      Melatih fungsi pengamatan.
c.       Memberi teladan-teladan hidup yang positif.
d.      Memberi stimuli dan informasi yang objektif.

6.        Tahap Perkembangan Intelektual (6/7 – 12/13 tahun)
Tahap perkembangan intelektual anak dimulai ketika anak sudah dapat berpikir atau mencapai hubungan antar kesan secara logis serta membuat keputusan tentang apa yang dihubung-hubungkannya secara logis. Perkembangan intelektual ini biasanya di mulai pada masa anak siap memasuki sekolah dasar. Dengan berkembangnya fungsi pikiran anak, maka anak sudah dapat menerima pendidikan dan pengajaran. Masa perkembangan intelektual ini meliputi:
a.      Masa siap bersekolah; seperti penjelasan di atas.
b.      Masa bersekolah; (umur 7 – 12 tahun).
Ciri-ciri pribadi anak:
1)      Kritis dan realitis.
2)      Banyak ingin tahu dan suka belajar.
3)      Ada perhatian terhadap hal-hal yang praktis dan kongkret dalam kehidupan sehari-hari.
4)      Mulai timbul minat terhadap bidang-bidang pelajaran tertentu.
5)      Sampai umur 11 tahun anak suka minta bantuan kepada orang dewasa dalam menyelesaikan tugas-tugas belajarnya.
6)      Setelah umur 11 tahun, anak mulai ingin bekerja sendiri  dalam menyelesaikan tugas-tugas belajar.
7)      Mendambakan angka-angka raport yang tinggi tanpa memikirkan tingkat prestasi belajarnya.
8)      Anak suka berkelompok dan memilih teman-teman sebaya dalam bermain dan belajar.
c.       Masa pueral (umur 11/12 tahun)
Pada umur-umur berapa masa pueral ini berlangsung, belum ada ketentuan yang jelas. Bahkan masa pueral ini sepertinya bersamaan dengan masa pra-remaja. Secar umum dapat dikatakan, bahwa masa pueral terjadi pada akhir masa sekolah dasar. Beberapa ciri pribadi anak-anak masa pueral antara lain:
1)      Mempunyai harga diri yang kuat.
2)      Ingin berkuasa dan menjadi juara.
3)      Tingkah lakunya banyak berorientasi kepada orang lain dan suka bersaing.
4)      Suka bergaya tetapi pengecut.
5)      Suka memerankan tokoh-tokoh besar.
Perlakuan-perlakuan yang diperlukan:
a.      Memberi latihan berpikir.
b.      Memberi pengalaman langsung.
c.       Memberikan motivasi intrinsik agar anak mau belajar secara oto-aktif.
d.      Menggunakan evaluasi sebagai sarana motivasi belajar.
e.      Memberikan bimbingan secara psikologis, adil, dan fleksibel.

7.        Tahap Perkembangan pra-remaja ( 13 – 16 tahun)
Pergantian masa pueral dengan masa pra-remaja ini sering terjadi secara  mendadak, sehingga orang sering lupa terhadap waktu pergantian masa ini. Masa pra-remaja ini bersamaan dengan masa puber. Hal ini sering menambah bingungnya para pengamat psikologi perkembangan, karena timbulnya pubertas pada anak laki-laki berbeda dengan anak perempuan dimana perempuan lebih dulu dari pada laki-laki. Karena itu, ada yang menyebut masa ini sebagai masa negatif, di samping itu ada yang menyebut sebagai “trotzalter” yang kedua, dengan kenyataan bahwa sifat pubertas anak laki-laki dan anak perempuan berbeda seperti berikut:
a.      Sifat-sifat negatif anak perempuan pada masa pra-remaja antara lain:
1)        Mudah gelisah dan bingung.
2)        Kurang suka bekerja (ogah-ogahan).
3)        Mudah jengkel dan marah.
4)        Pemurung, kurang bergembira.
5)        Membatasi diri dari pergaulan umum.
6)        Agresif terhadap orang lain.
b.      Sifat-sifat negatif anak laki-laki pada masa pra-remaja antara lain:
1)        Mudah lelah.
2)        Malas bergerak/bekerja.
3)        Suka tidur dan bersantai-santai.
4)        Mempunyai rasa pesimis dan rendah diri.
5)        Perasaan mudah berubah, senang-sedih-yakin-gelisah silih berganti.
Menurut para ahli, sifat-sifat negatif anak pra-remaja ini berhubungan dengan kondisi pertumbuhan bilogis, yaitu mulai bekerjanya kelenjar-kelenjar kelamin secara radikal. Hal ini menimbulkan perubahan besar dalam tubuh anak pra-remaja, sedangkan perubahan itu tidak dipahami oleh yang bersangkutan sehingga menimbulkan rasa heran, malu, khawatir, dan sebagainya.
Perlakuan-perlakuan yang diperlukan:
a.      Hindarilah  sikap menunggu/membiarkan tingkahlaku negatif anak pra-remaja.
b.      Mendekati anak dengan penuh persahabatn.
c.    Memberi petunjuk dan pengarahan secara simpatik dengan menumbuhkan kepercayaan pada anak terhadap pendidikan.
d.      Jangan mengekang, tetapi juga jangan membiarkan.

8.        Tahap Perkembangan Remaja (16 -20 tahun)
Setelah masa pra-remaja berakhir, anak mempunyai kebutuhan akan adanya teman atau sahabat yang diharapkan dapat memahami penderitaan dirinya serta membantunya mengatasi persoalan pribadinya itu. Pada tahap ini anak mulai terdorong untuk mencapai pedoman hidup yang bernilai bagi dirinya. Dalam tahap ini sifat antara anak laki-laki dan anak perempuan terdapat perbedaan mencolok dan bahkan bertentangan.
Beberapa sifat yang berbeda tersebut dapat dikemukakan di bawah ini:
a.      Sifat anak laki-laki remaja:
1)        Aktif dan suka memberi.
2)        Suka memberi perlindungan.
3)        Aktif meniru pribadi pujaannya.
4)        Tertarik pada hal yang bersifat abstrak dan intelektual.
5)        Berusaha menunjukkan diri mampu dan bergengsi.
b.      Sifat anak perempuan remaja:
1)        Pasif dan suka menerima.
2)        Suka mendapat perlindungan.
3)        Pasif tetapi mengagumi pribadi pujaannya.
4)        Tertarik kepada hal-hal yang bersifat kongkret dan emosional.
5)        Berusaha menuruti dan menyenangkan orang lain.
Perlakuan-perlakuan yang diperlukan:
a.      Memberi kepercayaan kepada anak untuk melaksanakan tugas-tugas.
b.      Mengevaluasi dan mengarahkan belajar anak secara bijaksana.
c.    Membimbing penemuan pandangan hidup yang sesuai dengan pribadi dan lingkungannya.
d.      Menanamkan semangat patriotik/kecintaan kepada bangsa dan tanah air.
e.      Memupuk jiwa dan semangat wiraswasta di berbagai bidang.

Sumber:
Wasty Soemanto. 2006. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Rineka Cipta.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar